Translate

Selasa, 29 Mei 2012

MAKNA DAN TATA CARA PERSEMBAHYANGAN UMAT HINDU

A.Definisi Sembahyang

Sembahyang terdiri atas dua kata, yaitu: (1) Sembah berarti sujud atau sungkem yang dilakukan dengan cara-cara tertentu dengan tujuan untuk menyampaikan penghormatan, perasaan hati atau pikiran baik dengan ucapan kata-kata maupun tanpa ucapan, misalnya hanya sikap pikiran. (2) Hyang berarti yang dihormati atau dimuliakan sebagai obyek dalam pemujaan, yaitu Sang Hyang Widhy Wasa Yang Maha Esa.
Dalam bahasa sehari-hari sembahyang sering disebut dengan istilah “mebhakti” atau “maturan”. Disebut juga dengan “muspa” karena dalam persembahyangan itu lazim juga melakukan persembahan menggunakan kembang (puspa). Disebut “mebhakti” karena inti dari persembahan itu adalah penyerahan diri setulus hati tanpa pamrih kepada Sang Sang Hyang Widhi Wasa. Demikian pula kata “maturan” yang artinya mempersembahkan apa saja yang merupakan hasil karya sesuai dengan kemampuan dengan perasaan yang tulus ikhlas, seperti bunga, buah-buahan, jajanan, minuman dan lain-lain.

B. Manfaat Bersembahyang

Sembahyang memiliki manfaat yang sangat besar bagi kita baik manfaat pisik maupun psikis. Salah satu manfaat sembahyang adalah untuk memelihara kesehatan. Selain pikiran menjadi jernih, sikap-sikap sembahyang seperti asana (padmasana, siddhasana, sukhasana, dan bajrasana) membuat otot dan pernafasan menjadi bagus.
Bersembahyang dan berdoa juga mendidik kita untuk memiliki sifat ikhlas karena apa yang ada di dalam diri dan di luar diri kita tidak ada yang kekal, cepat lambat akan kita tinggalkan atau berpisah dengan diri kita. Keikhlasan inilah yang dapat meringankan rasa penderitaan yang kita alami karena kita telah paham benar akan kehendak Sang Sang Hyang Widhi Wasa. Bersembahyang juga dapat menentramkan jiwa karena adanya keyakinan bahwa Sang Hyang Widhy Wasa selalu akan melindungi umatNya.

C.  Persiapan Sembahyang

Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Persiapan lahir seperti pakaian, bunga, dupa, sikap duduk, pengaturan nafas dan sikap tangan. Sedangkan persiapan bathin adalah ketenangan dan kesucian pikiran.
Langkah-langkah persiapan dan sarana-sarana sembahyang adalah sebagai berikut:
1.  Asuci laksana, yaitu membersihkan badan dengan mandi.
2.  Pakaian, hendaknya memakai pakaian sembahyang yang bersih serta tidak mengganggu ketenangan pikiran dan sesuai dengan Desa Kala Patra (waktu, tempat dan keadaan).
3.  Bunga dan Kawangen, yaitu lambang kesucian sehingga diusahakan memakai bungan yang segar, bersih dan harum. Jika dalam persembahyangan tidak ada kawangen, maka dapat diganti dengan bunga. Kawangen berasal dari kata kewangi (keharuman) yang menunjukkan cinta harum kita kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Kawangen juga menyimbolkan alam bhuana agung, seperti bulan, matahari dan bintang. Bentuknya yang segitiga menunjukkan apa yang kita mohon menuju pada diri kita.
4.  Dupa, yaitu simbol Hyang Agni, saksi dan pengantar sembah kita kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
5.  Tempat duduk, hendaknya tidak menggangu ketenangan untuk sembahyang serta arah duduk adalah menghadap pelinggih.
6.  Sikap duduk, dapat dipilih sesuai Desa Kala Patra dan tidak mengganggu ketenangan hati. Ada empat yaitu padmasana, siddhasana, sukhasana, dan bajrasana.
7.  Sikap tangan, pada saat melaksanakan Puja Tri Sandya adalah dengan sikap “Amusti Karana” yaitu cakupkan dua tangan didada, kedua ibu jari bertemu, empat jari kanan menutup empat jari kiri. Sedangkan sikap tangan yang baik pada waktu sembahyang/muspa adalah “cakupang Kara Kalih”, yaitu kedua telapak tangan dikatupkan diletakkan di depan ubun-ubun. Bunga atau kawangen dijepit pada ujung jari.

D. Urutan Sembahyang

Memasuki areal Pura hendaknya “melukat” terlebih dahulu dengan memercikkan tirtha kepada diri kita, sebagai simbol menyucikan diri dan mohon ijin secara niskala. Hendaknya umat masuk ke Pura melalui pintu sebelah kiri dan keluar menuju pintu sebelah kanan karena harus sesuai dengan arah perputaran waktu yang selalu maju.
Sebelum melaksanakan Kramaning Sembah hendaknya melaksanakan Puja Trisandya terlebih dahulu. “Dalam melakukan Puja Trisandya baik sendirian maupun berkelompok kita berkonsentrasi dengan baik, mengikuti desah nafas kita dengan halus dan pelan. Sepanjang mampu kita bernafas lantunkanlah sloka-sloka tersebut dengan lemah lembut. Kalau kita melantunkan sloka dengan pikiran, maka mantram tersebut seperti terkejar-kejar atau belomba-lomba dan tidak berakhir dengan bersamaan”.
Setelah melakukan Puja Trisandya, kita lanjutkan dengan melaksanakan Panca Kramaning Sembah yang bermakna sebagai berikut:
1.  Sembah pertama dengan tangan kosong (puyung) yang intinya bertujuan untuk memohon kesucian dan memusatkan pikiran.
2.  Sembah kedua, ketiga dan keempat dengan memakai bungan dan kawangen dengan tujuan penyampaian rasa hormat kepada Sang Hyang Widhy Wasa, penyampaian hormat kepada sifat wujudNya dalam segala manifestasiNya dan kepada para Dewa, serta penyampaian permohonan maaf dan permohonan anugrah.
3.  Sembah kelima, yaitu sembah tangan kosong yang merupakan sembah penutup sebagai rasa terima kasih atas rahmatNya dan mengantarkan kembali ke alam gaib.
Seusai melaksanakan persembahyangan, umat dipercikkan tirtha wangsuh pada Ida Bhatara. Tirta ini dipercikkan 3-7 kali di kepala, 3 kali diminum dan 3 kali mencuci muka (meraup). Hal ini dimaksudkan agar pikiran dan hati umat menjadi bersih dan suci. Kebersihan dan kesucian hati adalah pangkal ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan lahir dan bathin itu sendiri.
Kemudian mawija atau mabija dilakukan setelah selesai metirtha yang merupakan rangkaian terakhir dari suatu persembahyangan. Wija atau bija adalah biji beras yang dicuci dengan air atau air cendana. Bila dapat diusahakan beras galih, yaitu beras yang utuh tidak patah (aksata). Wija atau bija adalah lambang Kumara, yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. Jadi, mewija mengadung makna menumbuh kembangkan benih ke-Siwa-an itu di dalam diri.

E.  Tahapan Persembahyangan

1.  Mantram Dupa :

Oṁ Ang dupa dipāstraya nama swāha

O Sang Hyang Widhy Wasa/Brahma tajamkanlah nyala dupa hamba sehingga sucilah sudah hamba seperti sinar-Mu.

2.  Mantram Bunga dan Kawangen

Oṁ puspa dantā ya namah swāha
O Sang Hyang Widhy Wasa, semoga bunga ini cemerlang dan suci.

3.  Duduk dengan tenang, dan setelah suasananya tenang ucapkan mantram :

Oṁ prasada sthiti sarira siwa suci nirmalāya namah swāha

O Sang Hyang Widhy Wasa, dalam wujud Hyang Siwa, hamba-Mu telah duduk tenang, suci, dan tiada noda.

4.  Lakukan Pranayama

Menarik nafar (Puraka) : O Ang Namah
O Sang Hyang Widhy Wasa dalam aksara Ang pencipta, hamba hormat

Menahan nafas (kumbaka) : O Ung Namah
O Sang Hyang Widhy Wasa dalam aksara Ung pemelihara, hamba hormat

Mengeluarkan nafas (recaka) : O Mang Namah
O Sang Hyang Widhy Wasa dalam aksara Mang pelebur, hamba hormat

5.  Penyucian tangan

a.    Tangan kanan : Oṁ suddha mām swāha

O Sang Hyang Widhy Wasa, bersihkanlah tangan hamba (bisa juga pengertiannya untuk membersihkan tangan kanan).

b.    Tangan kiri :  Oṁ ati suddha mām swāha

O Sang Hyang Widhy Wasa, lebih dibersihkan lagi tangan hamba (bisa juga pengertiannya untuk membersihkan tangan kiri).

6.  Puja Tri Sandya

1. Oṁ Oṁ Oṁ
bhūr bhvaḥ svaḥ
tat savitur varenyaṁ
bhargo devasya dhīmahi
dhiyo yo naḥ pracodayāt
2.  Oṁ Nārāyaṇ evedaṁ sarvam
yad bhūtaṁ yac ca bhāvyaṁ
niskalaṅko nirañjano nirvikalpo
nirākhyātah śuddo deva eko
Nārāyanaḥ na dvitīyo asti kaścit
3.  Oṁ tvaṁ śivah tvaṁ mahādevaḥ
īśvaraḥ parameśvaraḥ
brahmā viṣṇus ca rudraś ca
puruṣaḥ parikīrtitāḥ
4.  Oṁ pāpo’haṁ pāpakarmāhaṁ
pāpātmā pāpasambhavaḥ
trāhi mām puṇḍarīkāksa
sabāhyābhyantaraḥ śuciḥ
5.  Oṁ kṣamasva māṁ mahādevaḥ
sarvaprāni hitaṅkara
māṁ moca sarva pāpebyaḥ
pālayasva sadāśiva
6.  Oṁ ksāntavyah kayiko dosāh
kṣantavyo vāciko mama
kṣāntavyo mānaso dosāh
tat pramādāt kṣamasva mām

Oṁ śāntiḥ śāntiḥ śāntiḥ,Oṁ

Terjemahan :
1.    Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa kami menyembah kecemerlangan dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhy Wasa yang menguasai bumi, langit dan sorga, semoga Sang Hyang Widhy Wasa  menganugrahkan kecerdasan dan semangat pada pikiran kita.
2.    Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, semua yang ada berasal dari Sang Hyang Widhy Wasa baik yang telah ada maupun yang akan ada, Sang Hyang Widhy Wasa bersifat gaib tidak ternoda terikat oleh perubahan, tidak dapat diungkapkan, suci, Sang Hyang Widhy Wasa, tidak ada yang kedua
3.    Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, engkau disebut Siwa yang menganugrahkan kerahayuan, Mahadewa (dewata tertinggi), Iswara (maha kuasa), Parameswara (sebagai maharaja adiraja), Brahma (pencipta alam semesta beserta isinya), Wisnu (memelihara alam semesta), Rudra (yang sangat menakutkan) dan sebagai Purusa (kesadaran agung).
4.    Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, hamba ini papa, perbuatan hambapun papa, diri hamba ini papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Sang Hyang Widhy Wasa, Sang Hyang Widhy Wasa yang bermata indah bagai bungan teratai, sucikanlah jiwa dan raga hamba.
5.    Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, ampunilah hamba Sang Hyang Widhy Wasa yang maha agung anugrahkan kesejahteraan kepada semua mahluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah hamba oṁ Sang Hyang Widhy Wasa.
6.    Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, ampunilah dosa yang dilakukan badan hamba, ampunilah dosa yang keluar melalui kata-kata hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelahiran hamba.

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa anugrahkanlah kedamaian, kedamaian, kedamaian selalu.

7.  Kramaning Sembah

Setelah selesai memuja Trisandya dilanjutkan Panca Sembah. Kalau tidak melakukan persembahyangan Trisandya (mungkin tadi sudah di rumah) dan langsung memuja dengan Kramaning Sembah, maka setelah membaca mantram untuk dupa langsung saja menyucikan bunga atau kawangen yang akan dipakai muspa.
Adapun sikap tangan yang perlu kita perhatikan dalam persembahyangan dalah :
Ø  Kehadapan Sang Hyang Widhy Wasa, cakupkan tangan diletakan di atas dahi sehingga ujung jari ada di atas ubun-ubun.
Ø  Kehadapan para Dewa (Dewata), ujung jari-jari tangan diatas, diantara kening.
Ø  Kepada Pitara (roh leluhur), ujung jari-jari tangan berada di ujung hidung.
Ø  Kepada sesama Manusia, tangan dihulu hati, dengan ujung jari tangan mengarah keatas.
Ø  Kepada para Butha, tangan dihulu hati, tetapi jari tangan mengarah kebawah

(1).         Sembah puyung (cakupan tangan kosong)

Oṁ Ᾱtmā tatvātmā śuddha mām swāhā

Oṁ atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba

(2).         Menyembah Sang Hyang Widhy Wasa sebagai Sang Hyang Aditya menggunakan sarana bunga berwarna putih :

Oṁ Ᾱdityasyā paraṁ jyoti
rakta tejo namostute
sweta paṇkaja mādhyastha
bhāskarāya namo’stute

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, Sinar Hyang Surya Yang Maha Hebat. Engkau bersinar merah, hamba memuja Engkau. Hyang Surya yang berstana di tengah-tengah teratai putih. Hamba memuja Engkau yang menciptakan sinar matahari berkilauan.
(3).         Menyembah Sang Hyang Widhy Wasa  sebagai Ista Dewata dengan sarana Bunga atau Kawangen.
Istadewata adalah dewata yang di inginkan kehadirannya pada waktu seseorang memuja keagungannya. Ista Dewata adalah perwujudan Sang Hyang Widhy Wasa dalam berbagai wujudNya. Jadi mantramnya bisa berbeda-beda tergantung di mana dan kapan bersembahyang. Mantram di bawah ini adalah mantram umum yang biasanya dipakai saat Purnama atau Tilem atau di Pura Kahyangan Jagat:

Oṁ nama dewa adhisthanāya
sarwa wyāpi wai śiwāya
padmāsana eka pratiṣṭhāya
ardhanareśvaryai namo’ namaḥ

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, yang bersemayam pada tempat yang sangat luhur, kepada Hyang Siwa yang berada di mana-mana, kepada dewata yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai di suatu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba memuja.

(4).         Menyembah Sang Hyang Widhy Wasa sebagai pemberi anugrah menggunakan sarana bunga atau kawangen

Oṁ Anugraha manoharam
dewa dattā nugrahaka
arcanaṁ sarwā pūjanaṁ
namaḥ sarwā nugrahaka
Dewa-dewi mahāśiddhi
yajñānya nirmalātmaka
laksṣmi śiddhiśça dīrghāyuh
nirwighna sukha wṛddiśca

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, Engkau yang menarik hati pemberi anugrah, anugrah pemberian Dewata yang maha agung, pujaan semua pujaan, hormat bhakti hamba pada-Mu, pemberi semua anugrah

(5).         Sembah Puyung (cakupan tangan kosong)

Oṁ Deva sukṣma paramācintyāya nama swāhā.
Oṁ śāntiḥ śāntiḥ śāntiḥ,Oṁ

Oṁ Hormat kepada dewata yang yang tak terpikirkan yang maha tinggi yang gaib

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa anugrahkanlah kedamaian, kedamaian, kedamaian selalu.

8.  Metirtha (pemercikan tirtha)

a.     Pemercikan Tirtha pebersih/pengelukatan

O Pratama sudha, dwitya sudha, tritya sudha, catury sudha, pancamini sudha, sudha, sudha wariastu.

b.    Pemercikan Tirtha Wasuhpada (pemercikan tiga kali)

O Ang Brahma amertha ya namah
O Ung Wisnu amertha ya namah
O Mang Iswara amertha ya namah

O Sang Hyang Widhy Wasa bergelar Brahma, Wisnu, Iswara,nhamba memujaMu, semoga dapat memberi kehidupan

c.     Minum Tirtha
O Sarira paripuma ya namah
O Ang Ung Mang sarira sudha
Pramantya ya namah
Om Um Ang Samo sampuram ya namah
d.    Meraup Tirtha ke muka
O Siwa amertha ya namah
O Sadha Siwa amertha ya namah
O Parama Siwa amertha ya namah

9.  Memasang Bija

a.     Bija untuk di dahi
Om Sriyam Bhawantu

O Sang Hyang Widhy Wasa semoga kebahagiaan menyelimuti hamba

b.    Bija dibawah tenggorokan
Om Shukham Bhawantu

O Sang Hyang Widhy Wasa semoga kesenangan selalu hamba peroleh

c.     Bija untuk ditelan
O Purnam Bhawantu
O Ksama sampurna ya namah swaha

O Sang Hyang Widhy Wasa semoga kesempurnaan meliputi hamba
O Sang Hyang Widhy Wasa semoga semuanya menjadi bertambah sempurna
10.           Selesai sembahyang meninggalkan tempat suci

Oṁ kṣamasva māṁ mahādevaḥ
sarvaprāni hitaṅkara
māṁ moca sarva pāpebyaḥ
pālayasva sadāśiva

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, ampunilah hamba Sang Hyang Widhy Wasa yang maha agung anugrahkan kesejahteraan kepada semua mahluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah hamba oṁ Sang Hyang Widhy Wasa.

F.  Ista Dewata Puja

Untuk memuja di Pura atau tempat suci tertentu, kita bisa menggunakan mantram lain yang disesuaikan dengan tempat dan dalam keadaan bagaimana kita bersembahyang. Yang diganti adalah mantram sembahyang urutan ketiga dari Panca Sembah, yakni yang ditujukan kepada Istadewata. Berikut ini contohnya:




(1)       Sembahyang di pura pamarajan kamimitan (rong tiga), Paibon, dadia, atau Phadarman

Oṁ Brahmā Wisnu Iswara dewam
Tripurusa suddhātmakam
Tridewa trimurti lokam
sarwa wighna winasanam

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, dalam wujudMu sebagai Brahma, Wisnu, Iswara, Dewa Tripurusa MahaSuci, Tridewa adalah Trimurti, semogalah hamba terbebas dari segala bencana.

(2)       Untuk  memuja di padmasana, Sanggar Tawang/Luhuring :

Oṁ, ākāsam nirmalam sunyam,
Guru dewa bhyOṁāntaram,
Ciwa nirwana wiryanam,
rekhā Oṁkara wijayam,

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, penguasa angkasa raya yang suci dan hening. Guru rohani yang suci berstana di angkasa raya. Siwa yang agung penguasa nirwana sebagai Oṁkara yang senantiasa jaya, hamba memujaMu.

(3)       Sembahyang di Pura Desa :

Oṁ Isanah sarwa widyānām
Iswarah sarwa bhùtānām,
Brahmano’ dhipatir Brahmā
Sivo astu sadāsiwa

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, Hyang Tunggal Yang Maha Sadar, selaku Yang Maha Kuasa menguasai semua makhluk hidup. Brahma Maha Tinggi, selaku Siwa dan Sadasiwa.

(4)       Sembahyang  di Pura Puseh :

Oṁ, Girimurti mahāwiryam,
Mahādewa pratistha linggam,
sarwadewa pranamyanam
Sarwa jagat pratisthanam

O Sang Hyang Widhy Wasa, selaku Girimurti Yang Maha Agung, dengan lingga yang jadi stana Mahadewa, semua dewa-dewa tunduk padaMu.





(5)       Sembahyang di Pura Dalem :

Oṁ, Catur diwjā mahasakti
Catur asrame Bhattāri
Siwa jagatpati dewi
Durgā sarira dewi

O
  Sang Hyang Widhy Wasa, saktiMu berwujud Catur Dewi, yang dipuja oleh catur asrama, sakti dari Ciwa, Raja Semesta Alam, dalam wujud Dewi Durga. Ya, Catur Dewi, hamba menyembah ke bawah kakiMu, bebaskan hamba dari segala bencana.

(6)       Sembahyang di pura Prajapati :

Oṁ Brahmā Prajāpatih sresthah
swayambhur warado guruh
padmayonis catur waktro
Brahmā sakalam ucyate

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, dalam wujudMu sebagai Brahma Prajapati, pencipta semua makhluk, maha mulia, yang menjadikan diriNya sendiri, pemberi anugerah mahaguru, lahir dari bunga teratai, memiliki empat wajah dalam satu badan, maha sempurna, penuh rahasia, Hyang Brahma Maha Agung.

(7)       Sembahyang di pura Segara (tepi pantai) :

Oṁ Nagendra krùra mùrtinam
Gajendra matsya waktranam
Baruna dewa masariram
sarwa jagat suddhātmakam

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, wujudMu menakutkan sebagai raja para naga, raja gagah yang bermoncong ikan, Engkau adalah Dewa Baruna yang maha suci, meresapi dunia dengan kesucian jiwa, hamba memujaMu.

(8)       Sembahyang di pura Batur,  Ulunsui, Ulundanu :

Oṁ Sridhana dewikā ramyā
sarwa rupawati tathā
sarwa jñāna maniscaiwa
Sri Sridewi namo'stute

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, Engkau hamba puja sebagai Dewi Sri yang maha cantik, dewi dari kekayaan yang memiliki segala keindahan. la adalah benih yang maha mengetahui. Ya Sang Hyang Widhy Wasa Maha Agung Dewi Sri, hamba memujaMu.

(9)       Sembahyang pada hari Saraswati atau tatkala memuja Hyang Saraswati :

Oṁ Saraswati namas tubhyam
warade kāma rùpini
siddharāmbham karisyami
siddhir bhawantu me sadā

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa dalam wujud-Mu sebagai Dewi Saraswati, pemberi berkah, terwujud dalam bentuk yang sangat didambakan. Semogalah segala kegiatan yang hamba lakukan selalu sukses atas waranugraha-Mu.

(10) Untuk bersembahyang di pemujaan para Rsi Agung seperti Danghyang Dwijendra, Danghyang Astapaka, Mpu Agnijaya, Mpu Semeru, Mpu Kuturan dan lainnya :

Oṁ Dwijendra purvanam siwam
brahmanam purwatisthanam
sarwa dewa ma sariram
surya nisakaram dewam
Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa dalam wujudMu sebagai Siwa, raja dari sekalian pandita, la adalah Brahma, berdiri tegak paling depan, la yang menyatu dalam semua dewata. la yang meliputi dan memenuhi matahari dan bulan, kami memuja Siwa para pandita agung.

(11) Sembahyang ke hadapan Hyang Ganapati (Ganesha), namun dalam kaitan upacara mecaru (rsigana), atau memuja di Sanggah Natah atau Tunggun Karang, tak ada kaitannya dengan Panca Sembah :

Oṁ Ganapati rsi putram
bhuktyantu weda tarpanam
bhuktyantau jagat trilokam
suddha purna saririnam

Oṁ Sang Hyang ganapati, penguasa para Gana,putra Sang Hyang Siwa, semoga bergembira dengan persembahan suci, jagat dan jagat raya akan bahagia, dengan perwujudan yang suci dan sempurna.

Demikianlah beberapa mantram yang dipakai dalam Stawa, Stuti, atau puja untuk bersembahyang pada tempat-tempat tertentu. Sekali lagi, mantram ini menggantikan "mantram umum" pada saat menyembah kepada Istadewata, yakni sembahyang urutan ketiga pada Panca Sembah.

G.     Doa Sehari-hari

Inilah doa untuk sehari-hari. Lazimnya tentulah dihafalkan. Namun kalau panjang, apalagi untuk di depan umum, misalnya, membuka rapat/ pertemuan, mantram ini bisa dibaca dengan memegang buku. Mantram atau doa ini ejaannya sedapat mungkin mengikuti bahasa Sansekerta justru untuk mendekati pengucapan. Setiap hurup bergaris kecil di atasnya, dibaca lebih panjang. Misal: ā dibaca aa dan ù dibaca uu. Namun, huruf v (asli) sudah diganti w untuk mendekati cara bacanya.


Diucapkan saat berjumpa dengan seseorang atau memulai suatu pembicaraan dalam sebuah pertemuan. Tangan dicakupkan seperti menyembah, diangkat sejajar dada.

Oṁ Swastyastu
Oṁ Semoga selalu dalam keadaan selamat di bawah lindungan Sang Hyang Widhy Wasa.

2.  Doa menjelang tidur

Oṁ asato mā sat ganaya,
tamaso mā jayatir ganaya,
mrityor māmritam gamaya.

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa tuntunlah hamba dari jalan yang sesat menuju jalan yang benar, dari jalan gelap ke jalan terang, hindarkanlah hamba dari kematian menuju kehidupan abadi.

3.  Doa bangun pagi

Oṁ Utedānim bhagawantah syāmota
prapitwa uta mandhye ahnam
utoditā maghawanta sùryasya wayam
dewānām sumantau syāma.

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa Yang Maha Pemurah, jadikanlah hamba orang yang selalu bernasib baik pada hari ini, menjelang tengah hari, dan seterusnya. Semoga para Dewa melindungi diri hamba.

4.  Doa membersihkan/mencuci muka

Oṁ Cam camāni ya namah swāha.
Oṁ waktra parisudahaya namah swāha.

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, hamba memujaMu, semoga muka hamba menjadi bersih.


Oṁ rahphat astrāya namah.
Oṁ Sri Dewi Bhatrimsa Yogini namah.

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, sujud hamba kepada Dewi Sri, Bhatari Yogini, semoga bersihlah gigi hamba.

6.  Doa Berkumur

Oṁ Ang waktra parisudhamām swaha.

Oṁ ang Hyang Widhy Wasa, semoga bersihlah mulut hamba.




Oṁ Am kham khasolkhāya iswarāya namah swāha.

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, semoga bersihlah kaki hamba.

8.  Doa mandi

Oṁ Ganggā amrta sarira sudhamām swāha.
Oṁ Sarira parisudhamām swāha.
Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, Engkau adalah sumber kehidupan abadi nan suci, semoga badan hamba menjadi bersih dan suci.
Bisa pula dengan doa atau mantram ini:

Oṁ gangge ca yamune caiwagodawari saraswati
narmade sindhù kaweri
jale’smin sannidhim kuru

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, ijinkanlah hamba memanggil sungai suci Gangga, Yamuna, Godawari, Saraswati, Narmada, Sindhu dan Kaweri, semoga menganugerahkan kesucian kepada hamba.


Oṁ tam Mahādewāya namah swāha,
Oṁ bhusanam sarirabhyo parisudhamam swāha.

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa dalam perwujudanMu sebagai Tat Purusha, Dewa Yang Maha agung, hamba sujud kepadaMu dalam menggunakan pakaian ini. Semoga pakaian hamba menjadi bersih dan suci.
Selesai berpakaian hendaknya melakukan persembahyangan Trisandya.


Oṁ hiranyagarbhah samawartatagre
bhùtasya jātah patireka āsit
sadādhara pritiwim dyam utemam
kasmai dewāya hawisa widhema
Oṁ pùrnam adah purnamidam
pùrnāt purnam udacyate
pùrnasya purnam ādāya
pùrnamewawasisyate

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa Yang Maha Pengasih. Engkau asal alam semesta dan satu-satunya kekuatan awal. Engkau yang memelihara semua makhluk, seluruh bumi dan langit. Hamba memuja Engkau. Ya Sang Hyang Widhy Wasa Yang Maha Sempuma dan yang membuat alam sempurna. Alam ini akan lenyap dalam kesempurnaanMu. Engkau Maha Kekal. Hamba mendapat makanan yang cukup berkat anugrahMu. Hamba manghaturkan terima kasih.

Doa di atas baik untuk makan bersama, misalnya, pesta atau istirahat makan dalam suatu pertemuan. Jika sendirian bisa mengucapkan doa pendek ini yang diambil dari kitab suci Yajurveda:

Oṁ annapate annasya
no dehyanmiwasya susminah
pra-pra dātāram tāris ùrjam
no dhehi dwipade catuspade
Oṁ Ya Sang Hyang Widhy Wasa, Engkau penguasa makanan, anugerahkanlah makanan ini, semoga memberi kekuatan dan menjauhkan dari penyakit. Bimbinglah hamba anugerahkan kekuatan kepada semua mahkluk.


Oṁ anugraha amrtādi sañjiwani ya namah swāha.
O
Sang Hyang Widhy Wasa, semoga makanan ini menjadi penghidup hamba lahir dan bathin yang suci.


Oṁ Dhirgayur astu, awighnamastu, subham astu
Oṁ sriyam bhawantu, sukham bhawantu, pùrnam bhawantu, ksāma sampurnāya namah swāha.
Oṁ, Sāntih, Sāntih, Sāntih, Oṁ.
Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, semoga makanan yang telah masuk ke dalam tubuh hamba memberikan kekuatan dan keselamatan, panjang umur dan tidak mendapat sesuatu apapun. Ya Sang Hyang Widhy Wasa, semoga damai, damai di hati, damai di dunia, damai selama-lamanya.


Oṁ awighnam astu namo sidhham.
Oṁ sidhirastu tad astu swāha.

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, semoga atas perkenanMu, tiada suatu halangan bagi hamba memulai pekerjaan ini dan semoga berhasil baik.

Oṁ Dewa suksma parama acintyāya namah swāha
Sarwa karya prasidhāntam.

Oṁ Sāntih, Sāntih, Sāntih, Oṁ.

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa dalam wujud Parama Acintya yang maha gaib dan maha karya, hanya atas anugrahMu-lah maka pekerjaan ini berhasil dengan baik. Semoga damai, damai di hati, damai di dunia, damai selamanya.


Oṁ Asato mā sadyamaya
tamaso mā jyotir gamayamrtyor mā
amrtam gamaya,
Oṁ agne brahma grbhniswa
dharunama syanta riksam drdvamha
brahrnawanitwa ksatrawahi sajāta
wanyu dadhami bhratrwyasya wadhyāya.

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa Yang Maha Suci, bimbinglah hamba dari yang tidak benar menuju yang benar. Bimbinglah hamba dari kegelapan pikiran menuju cahaya pengetahuan yang terang. Lepaskanlah hamba dari kematian menuju kehidupan yang abadi. Sang Hyang Widhy Wasa Yang Maha Suci, terimalah pujian yang hamba persembahkan melalui Weda mantra dan kembangkanlah pengetahuan rohani hamba agar hamba dapat menghancurkan musuh yang ada pada hamba (nafsu). Hamba menyadari bahwa Engkaulah yang berada dalam setiap insani (jiwatman), menolong orang terpelajar pemimpin negara dan para pejabat. Hamba memuja Engkau semoga melimpahkan anugrah kekuatan kepada hamba.


Oṁ prano Dewi Saraswati
wājebhir wājiniwati
dhinam awiñyawantu.

Oṁ  Sang Hyang Widhy Wasa dalam manifestasi Dewi Saraswati, Hyang Maha Agung dan Maha Kuasa, semoga Engkau memancarkan kekuatan rohani, kecerdasan pikiran, dan lindungilah hamba selama-lamanya.



Oṁ pāwakānah Saraswati
wājebhir wajiniwati
yajñam wastu dhiyāwasuh.

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa sebagai manifestasi Dewi Saraswati. Yang MahaSuci, anugrahilah hamba kecerdasan. Dan terimalah persembahan hamba ini.


Oṁ purwe jato brahmano brahmacari
dharmam wasānas tapasodatistat
tasmajjatam brahmanam brahma
lyestham dewasca sarwe amrttna sākama

Oṁ  Sang Hyang Widhy Wasa, muridMu hadir di hadapanMu, Oh Brahman yang berselimutkan kesaktian dan berdiri sebagai pertama. Sang Hyang Widhy Wasa, anugrahkanlah pengetahuan dan pikiran yang terang. Brahman yang agung, setiap makhluk hanya dapat bersinar berkat cahayaMu yang senantiasa memancar.



Oṁ dewakrtasyainaso awaya janam
asi manusyakrtasi nama awaya janam
asipitra kitasi namo awaya janam asyatma
krtasyaenaso awaya janam
asyena sa' enase waya janam asi
yacchaham eno vidvamscakara
yacchavidvams tasya va ya janam asi

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, ampunilah dosa hamba terhadapMu, ampunilah dosa hamba terhadap sesama manusia, terhadap orangtua hamba, terhadap teman hamba, Sang Hyang Widhy Wasa ampunilah dosa hamba terhadap segala macam dosa, terhadap dosa yang hamba lakukan dengan sadar atau tidak sadar. Sang Hyang Widhy Wasa, semoga berkenan mengampuni semuanya itu.


Oṁ pasu pasāya wimahe sirascadaya dhimahi
tano jiwah pracodayat.

Oṁ Semoga atas perkenan dan berkahMu para pemotong hewan dalam upacara kurban suci ini beserta orang-orang yang telah berdana punia untuk yadnya ini memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan. Sang Hyang Widhy Wasa, hamba memotong hewan ini, semoga rohnya menjadi suci.


Oṁ sarwa wighna sarwa klesa sarwa lara roga
winasāya namah


Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa semoga segala halangan, segala penyakit, segala penderitaan dan gangguan Engkau lenyapkan semuanya.


Oṁ atma tattwatma naryatma Swadah Ang Ah
Oṁ swargantu, moksantu, sùnyantu, murcantu.
Oṁ ksāma sampurnāya namah swāha.

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa Yang Maha Kuasa, semogalah arwah yang meninggal mendapat sorga, menunggal denganMu, mencapai keheningan tanpa derita. Ya Sang Hyang Widhy Wasa, ampunilah segala dosanya, semoga ia mencapai kesempurnaan atas kekuasaan dan pengetahuan serta pengampunanMu.


Oṁ iha iwa stam mā wi yaustam
wiswam āyur wyasnutam
kridantau putrair naptrbhih
modamānau swe grhe

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, anugerahkanlah kepada pasangan penganten ini kebahagiaan, keduanya tiada terpisahkan dan panjang umur. Semoga penganten ini dianugerahkan putra dan cucu yang memberikan penghiburan, tinggal di rumah yang penuh kegembiraan.


Oṁ wisowiso wo atithim
wajayantah purupriyam
agnim wo duryam wocah
stuse sùsasya manmabhih

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, Engkau adalah tamu yang datang pada setiap rumah. Engkau amat mencintai umatMu. Engkau adalah sahabat yang maha pemurah. Perkenankanlah hamba memujaMu dengan penuh kekuatan, dalam ucapan maupun tenaga dan dalam lagu pujian.


Oṁ Brhatsumnah prasawitā niwesano
jagatah sthaturubhayasya yo wasi
sa no dewah sawitā sarma yaccha twasme
ksayaya triwarutham amhasah

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa Yang Maha Pengasih, yang memberi kehidupan pada alam dan menegakkannya. la yang mengatur baik yang bergerak dan yang tidak bergerak, semoga Ia memberi rahkmatNya kepada kami untuk ketentraman hidup dengan kemampuan untuk menghindari kekuatan yang jahat.)
Setelah bayi dimandikan, ayah bayi atau orang yang dituakan yang hadir di sana diminta membisikkan Mantram Gayatri (bait pertama Puja Trisandya) masing-masing tiga kali pada lobang telinga kanan dan kiri bayi itu.




Oṁ wicakrame prthiwim esa etām
ksetrāya wisnur manuse dasasyan
druwāso asya kirqya janāsa
uruksitim sujanimā cakāra

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, Engkau Hyang Wisnu yang membentang di bumi ini, menjadikah tempat tinggal bagi manusia. Kaum yang hina aman sentosa di bawah lindungan-Nya. Yang mulia telah menjadikan bumi tempat yang lega bagi mereka.


Oṁ Taccaksur dewahitam sukram uccarat
pasyema saradah satam
jiwema saradah satam

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa Yang Maha Kuasa, semoga seratus tahun hamba selalu melihat mata yang bersinar ciptaanNya, semoga hamba hidup seratus tahun lamanya.




Oṁ sam gacchadwam sam wadadwam
sam wo manamsi jānatām
dewa bhagam yatha purwe
samjānāna upasate.

Oṁ samani wa akutih
samānā hrdayāni wah
samānam astu wo
mano yatha wah susahasati.
Oṁ ano bhadrah krattawo yantu wiswatah

Oṁ Hyang Widhy Wasa, hamba berkumpul di tempat ini hendak bicara satu dengan yang lain untuk menyatukan pikir sebagai mana halnya para dewa selalu bersatu. Ya Sang Hyang Widhy Wasa, tuntunlah kami agar sama dalam tujuan, sama dalam hati, bersatu dalam pikiran hingga dapat hidup bersama dalam sejahtera dan bahagia. Ya Sang Hyang Widhy Wasa, semoga pikiran yang baik datang dan segala penjuru.)






Oṁ anugraha manoharam,
devadatta nugrahaka,
arcanam sarwā pùjanam,
namah sarwa nugrahaka.

Oṁ ksama swamām jagadnātha,
sarwa pāpā hitankarah,
sarwa karya sidham dehi,
pranamya sùryeswaram.

Oṁ Sāntih, Sāntih, Sāntih, Oṁ.

Oṁ Hyang Widhy Wasa limpahkanlah anugrahMu yang menggembirakan kepada hamba. Sang Hyang Widhy Wasa yang maha pemurah, semoga Sang Hyang Widhy Wasa melimpahkan segala anugrah kepada hamba. Ya Sang Hyang Widhy Wasa, pelindung alam semesta, pencipta semua makhluk, ampunilah dosa hamba dan anugrahilah hamba dengan keberhasilan atas semua karya. Sang Hyang Widhy Wasa yang memancarkan sinar suci, ibaratnya sang surya memancarkan sinarnya, hamba sujud kepadaMu. Ya Sang Hyang Widhy Wasa, semoga damai, damai di hati, damai di dunia, damai selama-lamanya.

Untuk menutup pertemuan, bisa pula dipakai doa di bawah ini yang diambilkan dari kitab Yajurveda. Mantram ini disebut Santi Mantram. Bunyinya:

Oṁ dyauh sāntir antariksam sāntih
prthiwi sāntir āpah sāntir
asadhayah santih wanaspatayah santir
wiswe dewah sāntir brahma sāntih
sarvam sāntih santir ewa sāntih
sā mā sāntir edhi

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa Yang Mahakuasa, anugerahkanlah kedamaian di langit, damai di bumi, damai di air, damai pada tumbuh-tumbuhan, damai pada pepohonan, damai bagi para dewata, damailah Brahma, damailah alam semesta. Semogalah kedamaian senantiasa datang pada kami.






Oṁ ā wiswāni amrta saubhagāni

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, semoga Engkau menganugerahkan segala keberuntungan yang memberikan kebahagiaan kepada hamba.


Oṁ wiswāni dewa sawitar
duri tāni parā suwa
yad bhadram tanna ā suwa

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, Sawitar, usirlah jauh-jauh segala kekuatan jahat. Berikanlah hamba yang terbaik.


Oṁ Trayambhakam yajāmahe
sugandhim pusti wardhanam
unwarukam iwa bandhanāt
mrtyor muksiya māmrtāt
Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, hamba memuja Hyang Trayambhaka/Rudra yang menyebarkan keharuman dan memperbanyak makanan. Semoga la melepaskan hamba seperti buah mentimun dari batangnya, melepaskan dari kematian dan bukan dari kekekalan.

(Yang dilantik biasanya menirukan)

Oṁ A Brahman brāhmano brahmawarcasi jāyatāmā
rāste raājanah sura isawyo tiwyādhi mahāratho jāyātām
dogdhri dhenuryodānad wānāsuh saptih purandhiryosājisnu
rathesthah sabheyo yuwāsyajayamānasya wiro jāyātam
nikāame-nikāme nah parjanyo warsatu phalawatyo na
osadhayah pacyantam yogaksemo nah kalpatāam

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa Yang Maha Kuasa, semogalah di negara ini lahir orang-orang yang memiliki pengetahuan spiritual. Semoga pula pemimpin-pemimpin yang perkasa pandai menggunakan kebijaksanaan seperti menggunakan senjata, pahlawan yang tangguh, sapi yang banyak memberikan susu, lembu pembawa barang dan kuda yang cepat. Demikian pula lahir wanita yang sempurna. Pemuda yang baik dan berguna bagi masyarakat, sedia berkorban. Semoga hujan turun memberi kemakmuran. Semoga pepohonan berbuah lebat. Semoga usaha kami berhasil.


Oṁ-mata bhumih putro aham prthivydh

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, semoga kami mencintai tanah air ini sebagai ibu dan hamba adalah putra-putranya yang siap sedia membela seperti para pahlawan kami.


Oṁ Sāntih, Sāntih, Sāntih, Oṁ

Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa anugrahkanlah kedamaian, kedamaian, kedamaian selalu.



Daftar Pustaka

Bajrasana, I Gede, IB Arisufhana & I Gusti Gede Goda. (1981). Acara (Sadacara). Jakarta: Departemen Agama RI. Hal. 12-30

Made Ngurah, I Gst & Rai wardhana, IB, 2007. Doa Sehari-hari menurut Hindu. Karangasem : Depag

 Made titib, 2003. Tri sandya, sembahyang dan Berdoa. Surabaya : Paramita

Sujana, I Made & I NyOṁan Susila. (2002). Manggala Upacara. Jakarta: Departemen Agama RI.

Wiana, Ketut. (2005). Doa Sehari-Hari: Menurut Hindu. Denpasar: PT Pustaka Manikgeni.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

silahkan dikomentari